DPRD Sumbar Temukan 22 Aset Bermasalah Senilai Rp79,02 Miliar, Likuidasi Dua BUMD Mandek Hampir Satu Dekade.
REALITANUSANTARA.COM
PADANG — Pengelolaan dan pemanfaatan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjadi perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar. Melalui Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Aset, DPRD menemukan sedikitnya 22 aset daerah berupa tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan secara optimal atau berstatus bermasalah, dengan total nilai tercatat mencapai Rp79,02 miliar.
Temuan tersebut mengindikasikan masih adanya persoalan mendasar dalam tata kelola kekayaan daerah. Mulai dari aset yang terbengkalai, penguasaan lahan oleh pihak lain, ketidakjelasan dokumen kepemilikan, hingga bangunan yang mengalami kerusakan berat dan proyek pembangunan yang belum diselesaikan.
Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan serius dan langkah konkret dari pemerintah daerah. Sebab, aset yang tidak dikelola dengan baik bukan hanya berpotensi menimbulkan kerugian daerah, tetapi juga menyebabkan hilangnya peluang untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Temuan tersebut disampaikan Ketua Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar, Doni Harsiva Yandra, dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar, Jumat (6/11/2026).
Berdasarkan hasil inventarisasi dan pembahasan Pansus, dari total aset senilai Rp79,02 miliar tersebut, sebesar Rp54,52 miliar merupakan aset kategori tidak produktif atau idle. Sementara itu, aset yang masuk kategori bermasalah mencapai Rp24,50 miliar.
Pansus menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pembenahan administrasi dan pencatatan inventaris semata. Diperlukan penyelesaian secara menyeluruh, terutama menyangkut kepastian status hukum, pengamanan fisik aset, penertiban penguasaan lahan, serta optimalisasi pemanfaatan aset agar memberikan nilai tambah bagi daerah.
Sejumlah aset milik Pemprov Sumbar yang menjadi perhatian Pansus tersebar di beberapa wilayah. Di antaranya tanah eks Penghubung Wilayah I di Kota Bukittinggi, kolam air tawar di kawasan Harau, tanah bekas Pelatihan Kesehatan di Lubuk Alung, serta gedung bangsal penyakit dalam RSUD Prof. Dr. H. Muhammad Yamin, SH.
Selain itu, persoalan juga ditemukan pada Rumah Dinas Kehutanan di Bukittinggi. Sebanyak 25 unit rumah yang sebelumnya merupakan rumah dinas Golongan III diketahui telah bersertifikat atas nama masing-masing penghuni.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan penelusuran lebih lanjut, terutama untuk memastikan kesesuaian proses administrasi dan status kepemilikan aset berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Persoalan lainnya terdapat pada aset bekas Dinas Pertanian yang berlokasi di Jalan Raden Saleh, Kota Padang. Aset tersebut masih menghadapi kendala dokumen kepemilikan serta penguasaan lahan oleh sejumlah pensiunan.
Pansus memandang persoalan semacam ini harus segera dituntaskan melalui inventarisasi ulang, pemeriksaan dokumen hukum, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Penanganan yang lambat dikhawatirkan semakin memperumit proses penyelesaian aset, terutama apabila menyangkut penguasaan fisik oleh pihak lain dan belum adanya kepastian administrasi kepemilikan.
Tidak hanya persoalan aset tanah dan bangunan, Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar juga menyoroti belum tuntasnya proses likuidasi dua badan usaha milik daerah (BUMD), yakni PT Andalas Tuah Sakato (ATS) dan PT Dinamika Sumbar Jaya (DSJ).
Kedua perusahaan tersebut sebelumnya telah diputuskan untuk dilikuidasi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 29 Juni 2016.
Namun, hingga November 2026, atau hampir sepuluh tahun sejak keputusan tersebut ditetapkan, proses likuidasi keduanya belum juga diselesaikan.
Mandeknya proses likuidasi ini menjadi perhatian DPRD karena menyangkut kejelasan penyelesaian kewajiban perusahaan, pertanggungjawaban keuangan, serta kepastian status aset yang masih berkaitan dengan kedua badan usaha tersebut.
Pansus menilai penyelesaian persoalan tersebut tidak boleh terus berlarut-larut. Pemerintah daerah perlu memastikan seluruh tahapan likuidasi berjalan sesuai ketentuan hukum dan prinsip akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Selain ATS dan DSJ, DPRD Sumbar turut menyoroti persoalan penyertaan modal pemerintah daerah pada PT Andalas Rekasindo Pratama (ARP) dan PT Padang Industrial Park (PIP).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tanah seluas 108 hektare yang berkaitan dengan penyertaan modal tersebut.
Hingga kini, masih diperlukan kejelasan menyangkut status hukum aset, komposisi kepemilikan saham, kewajiban masing-masing pemegang saham, serta pertanggungjawaban keuangan perusahaan.
Menurut Pansus, ketidakjelasan berbagai aspek tersebut harus segera dituntaskan agar tidak menimbulkan persoalan hukum dan keuangan daerah di kemudian hari.
Atas berbagai temuan tersebut, Pansus Pengelolaan Aset DPRD Sumbar menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada Gubernur Sumatera Barat.
Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya pembentukan unit pelaksana teknis (UPT) khusus yang menangani pengelolaan aset daerah.
Alternatif lainnya, pemerintah provinsi diminta mengoptimalkan pengelolaan aset melalui kerja sama dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) dan/atau membentuk perusahaan perseroan daerah (Perseroda) khusus pengelolaan aset.
Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem pengelolaan aset yang lebih profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi kekayaan daerah.
Pansus juga merekomendasikan agar Pemprov Sumbar segera membentuk tim terpadu penyelesaian aset bermasalah yang berada langsung di bawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat.
Tim tersebut diharapkan memiliki tugas, target, dan tahapan kerja yang jelas, terukur, serta didukung alokasi anggaran yang memadai.
Dengan adanya tim terpadu, penyelesaian aset tidak lagi berjalan secara parsial di masing-masing organisasi perangkat daerah, melainkan dilakukan melalui koordinasi dan pengawasan yang lebih terstruktur.
Untuk memastikan rekomendasi berjalan efektif, Pemprov Sumbar juga diminta menyampaikan laporan perkembangan tindak lanjut kepada DPRD setiap empat bulan.
Sementara itu, khusus persoalan likuidasi PT ATS dan PT DSJ serta penyertaan modal pada PT ARP dan PT PIP, Pansus merekomendasikan pembentukan pansus khusus guna melakukan pendalaman dan mendorong penyelesaian secara menyeluruh.
Seluruh rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset tersebut disetujui dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar yang dipimpin Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, didampingi Wakil Ketua DPRD Muhammad Iqra Chinsa Putra.
Persetujuan tersebut kemudian ditetapkan menjadi rekomendasi resmi DPRD Provinsi Sumatera Barat melalui Keputusan Nomor 20/SB/2026 tentang Rekomendasi DPRD Provinsi Sumatera Barat terhadap Pengelolaan Aset Pemerintah Daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Muhidi menegaskan bahwa pengelolaan aset daerah merupakan persoalan strategis yang harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh jajaran pemerintah provinsi.
Menurutnya, aset pemerintah bukan sekadar barang inventaris yang dicatat dalam laporan keuangan, melainkan kekayaan daerah yang harus dijaga, diamankan, dan dimanfaatkan secara optimal.
Aset yang selama ini belum produktif seharusnya dapat dikelola sehingga memberikan manfaat ekonomi dan berkontribusi terhadap peningkatan PAD.
Karena itu, Muhidi menekankan pentingnya keseriusan pemerintah daerah dalam menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang telah disepakati bersama.
DPRD Sumbar, katanya, akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan rekomendasi tersebut benar-benar dilaksanakan dan tidak berhenti sebatas laporan administratif maupun dokumen formal.
Pengamanan aset, kepastian hukum, serta optimalisasi pemanfaatannya menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan bertanggung jawab.
Wagub Vasko Sampaikan Ranperda Perubahan Pengelolaan Keuangan Daerah.
Selain membahas rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset, Rapat Paripurna DPRD Sumbar juga mengagendakan penyampaian Nota Penjelasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Nota penjelasan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy.
Dalam pemaparannya, Vasko menjelaskan bahwa perubahan regulasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menyesuaikan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dengan perkembangan kebijakan nasional.
Penyesuaian tersebut terutama berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Harmonisasi Kebijakan Fiskal Nasional.
Selain mengikuti perkembangan regulasi nasional, perubahan Perda juga didasarkan pada hasil evaluasi terhadap pelaksanaan aturan sebelumnya.
Penyempurnaan regulasi diperlukan agar mekanisme pengelolaan keuangan daerah semakin tertib, transparan, akuntabel, serta memberikan kepastian hukum bagi seluruh perangkat daerah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Terdapat enam aspek utama yang menjadi sasaran perubahan dalam Ranperda tersebut.
Pertama, penyesuaian ketentuan umum dan peristilahan agar selaras dengan regulasi terbaru.
Kedua, penambahan rincian klasifikasi Belanja Modal dan Bantuan Keuangan sehingga penganggaran dapat dilakukan secara lebih jelas dan terstruktur.
Ketiga, penegasan sumber Penerimaan Pinjaman Daerah sebagai bagian dari penyempurnaan mekanisme pembiayaan daerah.
Keempat, penyempurnaan mekanisme penyusunan dan pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS).
Kelima, penyederhanaan sistematika pelaporan serta pertanggungjawaban keuangan daerah agar lebih efektif dan mudah dipahami.
Keenam, penguatan tata cara pelaksanaan Utang Daerah, termasuk mekanisme yang berkaitan dengan kondisi darurat bencana.
Menanggapi penyampaian nota penjelasan tersebut, Muhidi menegaskan bahwa pembahasan Ranperda perubahan pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara cermat dan mendalam.
Menurutnya, regulasi yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan sekaligus menjaga keberlanjutan kemampuan fiskal daerah.
Prinsip kehati-hatian, transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan harus menjadi landasan utama dalam pembahasan.
Hal ini penting agar kebijakan pengelolaan keuangan daerah tidak hanya memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga dapat diterapkan secara efektif oleh seluruh perangkat daerah.
Dengan demikian, setiap kebijakan penganggaran dan pembiayaan dapat dilaksanakan secara terukur serta memberikan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat.
Dalam rapat paripurna yang sama, DPRD Sumbar juga menyetujui perubahan jadwal pelaksanaan reses anggota DPRD Masa Persidangan Pertama.
Jadwal reses yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada 11–19 Desember 2026 dimajukan menjadi 5–14 Desember 2026.
Perubahan tersebut dilakukan untuk memberikan waktu yang lebih memadai dalam menyelesaikan administrasi dan pertanggungjawaban kegiatan sebelum penutupan buku akhir tahun.
Reses merupakan salah satu agenda penting anggota DPRD untuk turun langsung ke daerah pemilihan, menyerap aspirasi masyarakat, serta menghimpun berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah.
Melalui kegiatan tersebut, aspirasi masyarakat diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan daerah.
Persetujuan rekomendasi Pansus Pengelolaan Aset, penyampaian Nota Penjelasan Ranperda perubahan pengelolaan keuangan daerah, serta penyesuaian jadwal reses menjadi tiga agenda penting dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar kali ini.
Temuan 22 aset bermasalah dan tidak produktif senilai Rp79,02 miliar menjadi pengingat bahwa pengelolaan kekayaan daerah membutuhkan sistem pengawasan dan penanganan yang lebih serius.
Begitu pula dengan persoalan likuidasi dua BUMD yang belum selesai hampir satu dekade serta ketidakjelasan penyertaan modal pada sejumlah perusahaan daerah.
DPRD Sumbar berharap seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi melalui langkah nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pembenahan pengelolaan aset dan penyempurnaan tata kelola keuangan daerah harus berjalan beriringan. Keduanya merupakan fondasi penting untuk menjaga kekayaan daerah, memperkuat kapasitas fiskal, meningkatkan PAD, serta memastikan setiap sumber daya milik pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, aset daerah yang selama ini belum produktif diharapkan dapat menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi Sumatera Barat sekaligus mendukung percepatan pembangunan daerah.(Ayu)










