Peringatan Peristiwa Situjuah ke-77, Evi Yandri: Sejarah Adalah Fondasi Bangsa.
REALITANUSANTARA.COM
Limapuluh Kota — Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah bangsa. Ia mengingatkan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang dikenal dengan istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah). Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber nilai dan pelajaran berharga bagi pembangunan daerah, bangsa, dan negara.
Hal tersebut disampaikan Evi Yandri saat menghadiri Upacara Peringatan Peristiwa Situjuah ke-77, yang digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, di Lapangan Khatib Sulaiman, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.
Ia menegaskan bahwa Peristiwa Situjuah merupakan salah satu tonggak sejarah penting di Sumatera Barat yang memiliki makna mendalam dan patut terus dikenang oleh generasi masa kini dan mendatang.
“Peristiwa Situjuah adalah momen bersejarah yang sarat dengan pelajaran. Melalui peristiwa ini, kita diajak untuk memahami bahwa setiap cita-cita besar hanya dapat diraih melalui perjuangan yang sungguh-sungguh,” ujar Evi Yandri.
Menurutnya, perjuangan tersebut tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan harus dilandasi oleh kebersamaan, persatuan, dan rasa tanggung jawab kolektif. Ia juga menekankan bahwa Peristiwa Situjuah menjadi pengingat akan bahaya pengkhianatan dalam sebuah perjuangan.
“Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa pengkhianatan dapat membawa dampak yang sangat besar dan merusak semangat perjuangan. Akibat pengkhianatan tersebut, sejumlah pejuang gugur dan perjuangan bangsa mengalami luka sejarah yang mendalam,” katanya.
Evi Yandri menilai, tragedi yang terjadi dalam Peristiwa Situjuah harus terus dikenang sebagai bahan refleksi agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Dengan mengingat sejarah, lanjutnya, masyarakat akan semakin memahami pentingnya menjaga persatuan demi kepentingan daerah dan bangsa.
Ia juga menyampaikan bahwa mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah akan menumbuhkan rasa nasionalisme, semangat kebangsaan, serta solidaritas sosial. Oleh karena itu, baik secara pribadi maupun sebagai pimpinan lembaga legislatif daerah, Evi Yandri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghargai dan memperingati setiap peristiwa sejarah, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Mengingat sejarah bukan hanya mengenang kejadian, tetapi juga menggali makna dan pelajaran yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Evi Yandri menjelaskan bahwa Peristiwa Situjuah memiliki keterkaitan erat dengan berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Keberadaan PDRI, menurutnya, merupakan kontribusi besar Sumatera Barat dalam menyelamatkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah situasi genting saat Agresi Militer Belanda II.
Ia menambahkan bahwa peringatan Peristiwa Situjuah juga merupakan bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai bela negara kepada masyarakat.
“Banyak pejuang yang mengorbankan nyawanya dalam peristiwa ini. Pengorbanan tersebut tidak boleh dilupakan. Kita wajib menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang demi tegaknya Republik Indonesia,” ujarnya.
Evi Yandri juga mengimbau masyarakat untuk menjadikan Peristiwa Situjuah sebagai simbol penghormatan sekaligus sumber inspirasi dalam memahami rangkaian sejarah terbentuknya PDRI, yang berlangsung sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, di tengah masa agresi militer Belanda.
“Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, PDRI pernah dibentuk sebagai bentuk perlawanan dan penyelamatan negara. Peristiwa Situjuah pada 15 Januari 1949 menjadi bagian penting dari sejarah tersebut. Dari sinilah kita belajar tentang arti persatuan dan kesatuan dalam menghadapi ancaman terhadap bangsa,” tutupnya.
Editor : Ayu












